Secara hukum memang tidak dibenarkan berniaga bagi para pekerja asing yang bekerja di Hong Kong namun, tingginya tuntutan kebutuhan hidup yang membuat banyak buruh migran melakukan usaha sampingan yaitu berdagang. Seperti yang dilakukan oleh buruh migran Indonesia asal Blitar dia berdagang makanan di Bandara Internasional Hong Kong, selain berdagang juga melayani penukaran uang. Dengan berlagak seperti seorang penumpang yang hendak naik pesawat tanpa membawa barang dagangannya dia menawarkan nasi bungkus, bakso dan makanan Indonesia lainya kepada buruh migran Indonesia yang sedang menunggu penerbangan. Baru ketika ada pembeli maka dia akan menghubungi temannya yang sudah menyiapkan nasi bungkus didalam koper atau tas plastik besar yang diletakkan diatas troli layaknya barang bawaan yang hendak cek-in.
Yuni, BMI asal Jawa Timur yang telah bekerja selama 6 tahun ketika ditemui di bandara Minggu 11 Januari 2015, mengaku sudah sekitar tiga tahun melakukan usaha sampingan ini di bandara, untuk semangkok bakso Ia mematok harga $ 40 HK atau sekitar Rp 64.960,- sedangkan untuk sebungkus nasi $ 25 HK atau sekitar Rp 40.600,-. Yuni bermain petak umpet dengan petugas bandara, untuk lebih aman Yuni tidak melakukan transaksi didepan umum,
"Ya sama saja seperti berdagang di tempat lain (taman-red) disini juga harus ngumpet-ngumpet kucing-kucingan sama petugas." Ketika ditanya tentang pendapatanya sekali berdagang
Yuni menambahkan "Keuntungannya memang lumayan tapi resikonya juga lumayan." imbuhnya.(*)
(Yani-HK)
"Ya sama saja seperti berdagang di tempat lain (taman-red) disini juga harus ngumpet-ngumpet kucing-kucingan sama petugas." Ketika ditanya tentang pendapatanya sekali berdagang
Yuni menambahkan "Keuntungannya memang lumayan tapi resikonya juga lumayan." imbuhnya.(*)
(Yani-HK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar